Powered By Blogger

Selasa, 19 Jun 2012

Perbandingan Agama Yahudi, Kristen, dan Islam

 
 
 
 
 
 
46 Votes

Agama Samawi ada 3, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Saya akan coba membandingkan ketiga agama ini dengan memakai referensi dari Al Qur’an, Alkitab, dan juga beberapa ensiklopedi yang ada.
Ketiga agama ini mempunyai beberapa kesamaan seperti percaya Adam adalah manusia pertama dan nenek moyang seluruh manusia, Ibrahim adalah seorang Nabi, dan kitab suci Taurat sebagai wahyu Allah. Meski demikian ada juga perbedaan yang beberapa di antaranya sangat mendasar.
Yahudi adalah agama tribal/kesukuan yang hanya bisa dianut oleh bangsa Yahudi. Agama ini tidak bisa disebarkan ke luar dari suku Yahudi. Oleh karena itu jumlahnya tidak berkembang. Hanya sekitar 14 juta pemeluknya di seluruh dunia. Sementara agama Kristen dan Islam karena disebarkan ke seluruh manusia dipeluk oleh milyaran pengikutnya.
Ketuhanan
Yahudi dan Islam menganggap Tuhan itu Satu. Tuhan Yahudi disebut Yahweh yang merupakan bentuk ketiga tunggal ”Dia adalah” (He who is). Ada pun Tuhan dalam Islam disebut Allah yang merupakan bentuk tunggal dan tertentu dari Ilah (Sembahan/Tuhan). Dalam Al Qur’an surat Al Ikhlas dijelaskan tentang keEsaan Tuhan:
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. [Al Ikhlas:1-4]
Sebetulnya dalam Alkitab keEsaan Tuhan juga dijelaskan dalam 10 Perintah Tuhan yang ada di Exodus 20:
Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. [Exodus 20:1-3]
Tapi meski dalam Yahudi dan juga Islam Tuhan itu adalah Satu termasuk zatNya, namun dalam agama Kristen ada doktrin Trinitas yang menyatakan bahwa Tuhan terdiri dari 3 oknum (person) yaitu Bapak, Anak, dan Roh Kudus yang diformulasikan pada abad ke 4 M oleh Saint Augustine. Dalam konsep Trinitas disebut Satu itu Tiga dan Tiga itu Satu. Trinitas/Triniti/Tritunggal terdiri dari 2 kata: Tri artinya Tiga dan Unity artinya Satu.
Berbeda dengan Al Qur’an surat Al Ikhlas yang menyatakan Tuhan tidak beranak atau diperanakkan (berbapak) di Alkitab disebut:
Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta” [2 Corinthian 11:31]
Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan [2 Corinthian 1:3]
Di ayat di atas jelas disebut Allah adalah Bapa dari Tuhan Yesus. Sebaliknya dalam Islam diajarkan Monoteisme yang mutlak/Tauhid bahwa Allah itu satu dan tidak punya anak atau pun sekutu:
“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” [Al Israa:111]
Maha Suci Allah dari mempunyai anak dan sekutu.
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,” [Al Mu’minuun]
Masalah Isa/Yesus
Kaum Yahudi tidak mengakui Yesus baik sebagai Tuhan atau pun sebagai Rasul. Bahkan mereka berusaha membunuh Yesus karena dianggap menyesatkan banyak orang.
Sebaliknya kaum Kristen menganggap Yesus adalah Tuhan:
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian [2 Corinthian 13:14]
Islam menganggap Yesus bukan Tuhan, tapi hanya manusia biasa yang diangkat menjadi Nabi:
”Dan ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” [Al Maa’idah:116]
Menurut Islam Isa adalah Nabi yang menyeru manusia kepada Tauhid, yaitu menyembah hanya Satu Tuhan:
”Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” [Al Maa’idah:117]
Masalah Orang Tua Isa/Yesus
Sebagaimana ayat-ayat Alkitab di atas, agama Kristen menganggap bahwa Yesus adalah anak Tuhan / Anak Allah.
Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.[Markus 1:1]
Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya [Lukas 1:32]
Meski demikian, pada Injil Matius 1:16-18 disebut bahwa Bapak Yesus adalah Yusuf meski Yesus lahir dari Perawan Maria sebelum menikah dengan Yusuf:
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. [Matius 1:16-18]
Silsilah Yesus akhirnya mengikuti silsilah Yusuf. Bukan Maria.
Di ayat lain dijelaskan Yesus anak Daud, anak Abraham:
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. [Matius 1:1]
Yesus Anak Manusia:
Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” [Matius 12:8]
Menurut Islam, Yesus adalah anak Maria / Maryam. Bukan anak Tuhan atau Yusuf:
“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan seperti manusia lainnya. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami, kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling. [Al Maa’idah:75]
Kekuasaan Allah
Di Alkitab, Genesis 32:25-28 disebutkan Yakub berkelahi melawan Allah sejak malam hingga fajar menyingsing. Karena Allah tak dapat mengalahkan Yakub, maka Allah memukul sendi pangkal paha Yakub dan berkata bahwa Yakub telah melawan Allah dan Manusia dan Yakub menang. Adakah ini artinya Allah kalah melawan Yakub?:
Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.”
Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”
Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebabengkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” [Genesis 32:24-28]
Dalam Injil Matius diceritakan bagaimana Tuhan Yesus ditangkap, diludahi, dan dipukul oleh manusia:
27:27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.
28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.
29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!”
30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.
31 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.[Matius 27:27-31]
Dalam Islam disebut bahwa jangankan seorang Yakub. Seluruh manusia pun Allah yang Maha Kuasa dapat memusnahkan dengan mudah!
“Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” [Faathir:16-17]
“Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. “ [Al An’aam:133]
Kemandirian Tuhan
Dalam Injil Matius diceritakan bagaimana Yesus mengeluh dengan suara nyaring: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?:
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? [Matius 27:46]
Dalam Al Qur’an dijelaskan Allah bukanlah orang yang hina yang perlu penolong:
Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. “ [Al Israa’:111]
Sifat Maha Tahu Tuhan
Dalam Alkitab, Injil Markus 11:12-13 diceritakan Tuhan Yesus yang merasa lapar ternyata tidak tahu kalau pohon Ara tidak berbuah karena memang bukan musimnya:
11:12 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. 13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. [Markus 11:12-13]
Dalam Islam, disebut bahwa Allah itu Maha Tahu. Bahkan tak ada sehelai daun pun yang jatuh ke bumi tanpa diketahuiNya:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]
Tidurkah Tuhan?
Dalam Injil Matius 8:24 diceritakan Yesus tidur:
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. [Matius 8:24]
Menurut Islam, Tuhan Maha Kuasa. Tidak pernah mengantuk dan juga tidak pernah tidur:
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al Baqarah:255]
Larangan Membuat Patung
Dalam 10 Perintah Tuhan di Exodus 20:4-5 Allah melarang manusia membuat patung apa pun:
20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku [Exodus 20:4-5]
Patung Yesus
Namun saat ini ummat Kristen membuat banyak patung Yesus dan Bunda Maria yang ditaruh di berbagai tempat terutama di Gereja.
Dalam Islam dilarang membuat patung apalagi menaruhnya di tempat ibadah.
Aisyah r.a. berkata, “Ketika Nabi sakit, ada sebagian di antara istri beliau menyebut-nyebut perihal gereja yang pernah mereka lihat di negeri Habasyah yang diberi nama gereja Mariyah. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang ke negeri Habasyah. Kemudian mereka menceritakan keindahannya dan beberapa patung yang ada di gereja itu. Setelah mendengar uraian itu, beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda, “Sesungguhnya mereka itu, jika ada orang yang saleh di antara mereka meninggal dunia, mereka mendirikan tempat ibadah di atas kuburnya. Lalu, mereka membuat berbagai patung di dalam tempat ibadah itu. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” [HR Bukhari]
Kitab Suci
Kitab Suci Yahudi meski juga dikutip sebagai Perjanjian Lama oleh kaum Kristen tetap ada beberapa perbedaan mendasar. Selain itu bahasa Kitab Suci Yahudi sebagian besar bahasa Ibrani dengan sedikit Aramaic. Sementara Perjanjian Lama Kristen dalam bahasa Yunani kuno. Ada tambahan 7 buku yang aslinya dalam bahasa Yunani di Perjanjian Lama Kristen.
Ada pun Injil yang resmi ada 4 versi yang berbeda. Masing-masing ditulis oleh Markus, Mathius, Lukas, dan Yohanes. Penulisan dilakukan sekitar tahun 70 hingga 100 Masehi sekitar 40 tahun setelah Yesus wafat (diperkirakan tahun 29 M).
Sebagai contoh Lukas menulis Injil yang ditujukan kepada seseorang yang disebut Teofilus:
1:1 Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, 2 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. 3 Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, 4 supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar. [Lukas 1:1-4]
Lukas kadang hanya mengira-ngira seperti Yesus umurnya kira-kira 30 tahun ketika memulai pekerjaanNya serta memakai kata “Anggapan Orang”:
Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli, [Lukas 3:23]
Jika bahasa Yesus adalah bahasa Aramaic, bahasa Perjanjian Baru aslinya adalah bahasa Yunani.
Sebaliknya Al Qur’an hanya ada satu versi yang dihafal oleh banyak orang dan masih murni dalam bahasa Arab sesuai bahasa Nabi Muhammad. Kalau bukan dalam bahasa Arab itu tak lebih dari terjemahan saja. Bukan Al Qur’an:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya Al Quran pada malam kemuliaan” [Al Qadr:1]
“Kitab[ Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]
Al Qur’an diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad. Oleh Nabi Muhammad disampaikan ke pengikutnya. Para pengikutnya ada yang menghafal, ada pula yang menulis di berbagai media (daun, tulang, kulit kambing/onta, dsb). Oleh pengikutnya Abu Bakar kemudian Al Qur’an dijadikan satu. Kemudian oleh sahabat Nabi Usman dijadikan satu buku berikut diberi tanda tulisan (panjang pendek, dsb) sehingga pengucapannya sesuai dengan aturan Bahasa Arab yang standar.
Kewajiban Sunat Bagi Pria
Dalam ajaran Yahudi dan Islam, sunat bagi pria diwajibkan. Ini sejalan dengan Alkitab:
GEN 17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. 12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” [Genesis 17:10-14]
Orang yang tidak bersunat sama dengan najis (Isaiah) karena air kencingnya tetap tersimpan di sela-sela kulit kemaluan:
IS 52:1 Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorangpun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu.
Namun orang-orang Kristen tidak melakukan itu karena menurut Paulus dalam Perjanjian Baru hukum itu dihapuskan (Meski di Genesis 17:10 dinyatakan itu perjanjian yang kekal):
ROM 2:25 Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. 26 Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat?
27 Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. 28 Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah.
29 Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.
3:1 Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? [Roman 2:25-29 – 3:1]
Larangan Memakan Daging Babi
Dalam ajaran Yahudi dan Islam diharamkan memakan daging babi. Ini sesuai dengan Alkitab Levi dan Deuteronomy 14:8:
LEV 11:7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. 8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu. [Levi 11:7-8]
Dalam Al Qur’an juga dilarang:
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah” [Al Baqarah:173]
Tapi saat ini babi adalah makanan yang umum di kalangan Kristen.
Dosa Asal / Warisan
Dalam Kristen dikenal doktrin Dosa Asal / Dosa Warisan (Original Sin). Karena Adam telah berdosa memakan buah terlarang, maka semua manusia keturunannya turut berdosa. Untuk itulah Yesus turun guna menebus dosa manusia.
Dalam Exodus 20:5 dijelaskan Allah membalas kesalahan Bapa hingga kepada keturunannya:
“Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” [Exodus 20:5]
Dalam Islam, setiap orang hanya memikul dosa masing-masing:
“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…” [Al An’aam:164]
Fitnah atas Nabi Luth (Lot)
Dalam Alkitab, Genesis 19:30-38 diceritakan bahwa Nabi Luth (Lot) berzinah dengan kedua anak kandungnya (Incest) sehingga punya anak dari mereka:
GEN 19:30 Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya.
31 Kata kakaknya kepada adiknya: “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.32 Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”
33 Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.
34 Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”
35 Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.
36 Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka. 37 Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang. 38 Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang.” [Genesis 19:30-38]
Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Luth adalah benar-benar seorang Rasul yang bersih dari perbuatan dosa seperti meminum anggur atau pun berzinah dengan putrinya sendiri:
Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.” [Ash Shaaffaat:133]
Di Al Qur’an dijelaskan Allah melebihkan derajad Nabi Luth di atas ummat manusia. Jadi kalau manusia biasa mayoritas tidak berzinah dengan anak kandungnya, apalagi seorang Nabi seperti Nabi Luth:
“dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)” [Al An’aam:86]
Fitnah atas Daud
Dalam Alkitab 2 Samuel 11:2-17 diceritakan bahwa Daud (yang di Matius 1:1 disebut Bapak Moyang Yesus) berzinah dengan istri Uria, Batsyeba. Setelah itu Daud memerintahkan Yoab agar menempatkan Uria di baris depan pertempuran kemudian mundur meninggalkan Uria agar terbunuh oleh musuh:
2SAM 11:2 Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.
3 Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: “Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.”
4 Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.” [2 Samuel 11:2-4]
Di Alkitab 2 Samuel 13:11-14 juga diceritakan bahwa anak Daud, Amnon memperkosa adik kandungnya sendiri Tamar:
2SAM 13:11 Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya: “Marilah tidur dengan aku, adikku.”
12 Tetapi gadis itu berkata kepadanya: “Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu.
13 Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.”
14 Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia.” [2 Samuel 13:11-14]
Dalam Al Qur’an fitnah atas Nabi Daud itu dibantah:
“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” [Al Maa’idah:78]
Pelarangan Zina
Dalam menceritakan kisah perzinahan atau pelarangan zina, Alkitab menjelaskannya secara rinci:
EZEK 23:1 Datanglah firman TUHAN kepadaku:
2 “Hai anak manusia, ada dua orang perempuan, anak dari satu ibu.
3 Mereka bersundal di Mesir, mereka bersundal pada masa mudanya; di sana susunya dijamah-jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang.
4 Nama yang tertua ialah Ohola dan nama adiknya ialah Oholiba. Mereka Aku punya dan mereka melahirkan anak-anak lelaki dan perempuan. Mengenai nama-nama mereka, Ohola ialah Samaria dan Oholiba ialah Yerusalem.
5 Dan Ohola berzinah, sedang ia Aku punya. Ia sangat berahi kepada kekasih-kekasihnya, kepada orang Asyur, pahlawan-pahlawan perang, 6 berpakaian kain ungu tua, bupati-bupati dan penguasa-penguasa, semuanya pemuda yang ganteng, pasukan kuda.
7 Ia melakukan persundalannya dengan mereka, semuanya orang Asyur pilihan; ia menajiskan dirinya dengan semua orang, kepada siapa ia berahi dan dengan berhala-berhalanya.
8 Ia tidak meninggalkan persundalannya yang dilakukannya sejak dari Mesir, sebab pada masa mudanya orang sudah menidurinya, dan mereka memegang-megang dada keperawanannya dan mencurahkan persundalan mereka kepadanya.
9 Oleh sebab itu Aku menyerahkan dia ke dalam tangan kekasih-kekasihnya, dalam tangan orang Asyur, kepada siapa ia berahi.
10 Mereka menyingkapkan auratnya, anak-anaknya lelaki dan perempuan ditangkap dan ia sendiri dibunuh dengan pedang. Dengan demikian namanya dipercakapkan di antara kaum perempuan sebab hukuman telah dijatuhkan atasnya.
11 Walaupun hal itu dilihat oleh adiknya, Oholiba, ia lebih berahi lagi dan persundalannya melebihi lagi dari kakaknya. 12 Ia berahi kepada orang Asyur, kepada bupati-bupati dan penguasa-penguasan kepada pahlawan-pahlawan perang yang pakaiannya sangat sempurna, kepada pasukan kuda, semuanya pemuda yang ganteng.
13 Aku melihat bahwa ia menajiskan diri; kelakuan mereka berdua adalah sama.
14 Bahkan, ia menambah persundalannya lagi: ia melihat laki-laki yang terukir pada dinding, gambar orang-orang Kasdim, diukir dalam warna linggam, 15 pinggangnya diikat dengan ikat pinggang, kepalanya memakai serban yang berjuntai, semuanya kelihatan seperti perwira, yang menyerupai orang Babel dari Kasdim, tanah kelahiran mereka.
16 Segera sesudah kelihatan oleh matanya ia berahi kepada mereka dan mengirim suruhan kepada mereka ke tanah Kasdim.
17 Maka orang Babel datang kepadanya menikmati tempat tidur percintaan dan menajiskan dia dengan persundalan mereka; sesudah ia menjadi najis oleh mereka, ia meronta dari mereka.
18 Oleh karena ia melakukan persundalannya dengan terang-terangan dan memperlihatkan sendiri auratnya, maka Aku menjauhkan diri karena jijik dari padanya, seperti Aku menjauhkan diri dari adiknya.
19 Ia melakukan lebih banyak lagi persundalannya sambil teringat kepada masa mudanya, waktu ia bersundal di tanah Mesir. 20 Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda.
21 Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu. [Ezekiel 23:1-21]
Dalam Kidung Agung (Song) gairah seks digambarkan sebagai berikut:
SONG 7:2 Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.
3 Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang. 4 Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.
5 Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya. 6 Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.
7 Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. 8 Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.” [Kidung Agung 7:2-8]
Dalam Islam larangan zina dinyatakan secara singkat dengan tidak menimbulkan birahi bagi pembacanya sehingga mereka tidak berkeinginan untuk bersetubuh dengan istrinya, berzina dengan pacarnya, atau melakukan onani:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” [Al Israa’:32]
Bahkan izin bersetubuh di malam bulan puasa pun disampaikan dengan cara yang tidak vulgar:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” [Al Baqarah:187]
Hukum Qishash
Dalam Perjanjian Lama, Exodus 21:11-22:19 dijelaskan tentang Hukum Qishash yaitu hukuman mati untuk pembunuh, mata ganti mata, gigi ganti gigi:
“Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.” [Exodus 21:12]
EX 21:24 mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, 25 lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” [Exodus 21:24-25]
Namun pada Perjanjian Baru hukum itu dihapuskan dan orang Kristen tidak mengikuti aturan itu lagi.
Dalam Al Qur’an hukum Qishash kembali ditegakkan:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita…” [Al Baqarah:178]
Hukum Qishash diberlakukan agar orang berpikir panjang sebelum membunuh orang lain. Seandainya dia membunuh orang, maka dia dihukum mati sehingga tidak bisa membunuh lagi. Dengan cara itu dunia jadi lebih aman bagi orang-orang yang tidak berdosa (bukan pembunuh):
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” [Al Baqarah:179]
Ular atau Iblis yang Menipu Adam dan Hawa?
Dalam Alkitab Genesis 3:1-19 diceritakan bahwa Ular adalah binatang paling cerdik yang bisa bicara sehingga bisa menipu manusia: Adam dan Hawa:
GEN 3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”
//en.wikipedia.org/wiki/Snake2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”
4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, 5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” [Genesis 3:1-6]
GEN 3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.” [Genesis 3:13-14]
Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa yang menggoda Adam dan Hawa adalah Setan/Iblis:
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu] dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”[Al Baqarah:36]
Jika dalam ajaran Kristen Adam dan Hawa tetap berdosa dan dosanya diturunkan kepada manusia sebagai Dosa Asal / Dosa Warisan (Original Sin), dalam Islam disebut setelah Adam dan Hawa minta ampun dan bertobat, Allah segera mengampuni mereka dan tidak ada dosa warisan yang diturunkan kepada anak cucu mereka:
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Baqarah:37]
Ummat Yahudi menganggap mereka adalah bangsa pilihan. Ummat Kristen beranggapan tidak ada keselamatan bagi orang yang tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan sehingga mereka mengirimkan banyak misionaris/penginjil untuk “menggarami” / mengkristenkan penduduk dunia. Islam sendiri menyatakan hanya Islam agama yang diridhai Allah:
“Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam.” [Ali ‘Imran:19]
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran:85]
Itulah beberapa perbedaan antara agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Meski masih banyak lagi perbedaannya, namun ummat Islam dianjurkan untuk berhubungan sosial dengan baik selama mereka tidak menyerang/memusuhi ummat Islam. Meski dalam agama tak ada paksaan dalam beragama, namun ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan masalah aqidah/agama. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Demikian ajaran agama kita.
Rujukan:
Al Qur’an
Alkitab
MS Encarta
Wikipedia

Cerpen: 7 Petala Cinta versi Hilal Asyraf.


Langit dan bumi punya 7 petala,
Di antaranya wujud 7 petala cinta.
Dan manusia memilih untuk berputus asa,
Atau terus hingga ke akhirnya.
Hihi.
Enjoy it!
:-)

Petala Pertama: Dasar Kepada Cinta.
Engkau tidak meminta. Engkau tidak pula berdoa mengharapkan dia. Saban waktu solat, yang engkau doakan hanyalah wanita yang sederhana. Memahami agamaNya, berakhlak, dan dari keturunan yang baik. Sejuk wajah memandang, tenang dan menyenangkan. Engkau tidak sebut nama sesiapa. Dan itulah yang menjadi canda harian dikau dengan Hazwan.
“Doakan ana dapat bidadari yang sederhana, faham agamaNya, berakhlak, sejuk wajah memandangnya.” Bisik kau ke telinga Hazwan saban dia mengangkat tangan berdoa, dan begitulah dia melakukannya kepada engkau, kala kalian berkesempatan.
Tetapi Allah jatuhkan rasa itu kepada Si Dia. Dari arah yang tidak disangka-sangka.
“Takkan nampak dari jauh, sudah mahu jatuh hati?” Engkau sentiasa mempersoalkan diri. Kau tidak pernah bertemu dengannya. Engkau tidak kenal sikap dan akhlaknya. Engkau tidak tahu keluarganya bagaimana. Dan engkau tidak pernah tahu bagaimana agamanya.
Bertudung labuh bersama seragam sekolahmu, itu belum membuktikan apa-apa. Namun hanya sekilas pandang, jiwamu seakan tidak mahu melepaskannya. Wajah itu lekat di dalam hati, dan sentiasa diulang tayang dalam minda.
“Allahuakbar.” Resah jiwamu, sukar mahu mengaku.
“Inikah cinta?”
Tetapi engkau tidak terus lemas di dalam perasaan. Jiwamu belum buta. Engkau tahu cinta hanya rasa, bukan Tuhan yang perlu diutama. Maka engkau tidak lama membiarkan diri bertarung dengan raksasa rasa.
“Ini kenapa muka sugul ni?” Sapa Ustaz Mikail yang engkau jumpa.
Engkau sekadar memandangnya kosong. Wajah lelaki berambut kemas, berbaju melayu, bertubuh sedikit gempal, sedang menatapmu dengan pandangan kasih. Tangan kanannya kini di bahu kirimu, tanda mesra.
“Ana ni macam jatuh hati pada seorang pelajar perempuan ini la Ustaz.”
Dan wajah jernih murabbimu itu kini beriak terkejut. Dua kening terangkat. Kemudian perlahan-lahan bibir merekah dengan senyuman, dan tawa kecil mengekori keadaan.
“Serius?” Tawa masih ada pada ustaz merangkap warden asrama tempat engkau menadah ilmu itu.
Engkau memuncungkan bibir. “Seriuslah ustaz. Buat apa ana main-main.”
“Oh, ok, ok. Dah besar dah rupanya anak murid ustaz ni. Tingkatan enam la katakan.” Bahumu ditepuk lagi dua tiga kali.
“Ustaz, berikanlah ana nasihat. Ana jatuh hati sebab tertengok dia sahaja tempoh hari. Ana tak kenal dia. Ana tak tahu dia bagaimana. Jadi, apa ana patut buat?” Engkau meluahkan segala ragu di dalam kalbu. Dan Ustaz Mikail tidak terus menjawab persoalanmu.
Beberapa ketika, bilik warden itu hanya dihiasi bunyi kipas yang berpusing di siling.
“Cinta. Dasarnya mestilah Pencipta Kepada Cinta.” Ustaz Mikail mula berbicara.
“Maka jika benar itu cinta, mestilah menurut perintahNya.” Kali ini tangannya menggosok belakang tubuhmu. Senyuman di bibir Ustaz Ridhwan, seakan diiringi 1001 makna.
Mata engkau membesar.
“Jangan tertipu dengan cinta. Kadangkala, syaitan hanya mempermainkan kita. Sekarang, pergilah dengan nama Tuhan, bermulalah kembara enta untuk mencapai cinta dengan pengalaman.”
“Aduh, sasteranya Ustaz.” Engkau mencebik. Dan mulut Ustaz Mikail berbuah tawa.
“Sudah tidak tahu, perlulah menjemput tahu. Jangan sekadar rasa, nanti merasa sahaja.” Kini pipimu pula disentuh lembut, seterusnya Ustaz Ridhwan bangun.
“Itu sahaja nasihat Ustaz?”
“Iya. Lebih dari cukup bukan? Enta bukan anak kecil lagi. Allah memberikan kita peluang untuk berusaha. Masanya, kembara bermula.”
Engkau menggaris senyum. Engkau sedar, bukan Ustaz Ridhwan tidak mampu membantumu dari A hingga Z, dari sifar kepada infiniti, tetapi dia memilih untuk mendidikmu. Cukup sekadar engkau mengetahui atas dasar apa cinta harus engkau bina, sekaligus engkau mengetahui apa yang sepatutnya engkau jauhi, dan kemudian dia menghantarmu bergerak memulakan kembara.
Kembara cinta.
“Terima kasih ustaz.”

Petala Kedua: Kenal Dia, kenal dia.
“Satu perkara yang remaja hari ini sering lupa adalah, rumah tangga itu merupakan batu-bata kepada pembinaan ummah. Maka, hendaklah rumah tangga itu sendiri dibina dengan binaan yang baik. Dan apakah binaan yang lebih baik, selain ketaatan kepada Allah SWT? Sesungguhnya dosa dan maksiat di atas jalan ini, hanya akan merapuhkan rumah tangga, sekaligus menyumbang kepada kelemahan binaan ummat.” Cikgu Bahar berbicara.
Seminar Bait Muslim yang engkau ikuti selama sehari suntuk, berakhir. Lafaz alhamdulillah keluar dari bibir. Menyedari hati disapa cinta, engkau pergi mencari Dia. Engkau sedar ini bukan untuk kepuasan nafsu semata-mata. Maka ilmu engkau penuhkan di dalam dada. Cinta membawa ke rumah tangga, dan rumah tangga adalah batu asas kepada pembinaan ummah. Mustahil dibangunkan dengan sambil lewa!
Betapa telah terpatri di dalam jiwamu, tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdikan diri kepadaNya. “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdikan diri(kepada Aku)” Surah Adz-Dzariyyat ayat 56.
Dan engkau amat sedar, bahawa pengabdian itu bukan semata-mata memenjarakan diri di dalam masjid, dan berteleku di atas tikar sejadah. Bahkan, pengabdian itu termasuk menjadi pentadbir dunia, kerana Allah SWT juga berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, sesungguhnya Aku mahu jadikan di dunia ini khalifah.” Surah Al-Baqarah ayat 30.
Maka mustahil jalan cinta ini akan engkau lalui dengan maksiat.
“Cinta biar dipandu dengan keimanan.” Begitulah pesan mudirmu, Ustaz Arif, saat engkau menamatkan pengajian. Maka keimanan itulah yang engkau cuba perkemaskan.
Tidak pula engkau tinggalkan ruang ikhtiar.
Bukanlah engkau ini manusia yang membiarkan urusan sebegini besar kepada Tuhan semata-mata. Fahaman tawakkalmu adalah dengan usaha. Bukan menanti semata-mata. Jika benar jodoh itu tidak perlu diusahakan, tidak perlu dicari, maka pastinya Allah SWT tidak berfirman di dalam Al-Baqrah ayat ayat 221, akan arahan untuk tidak bernikah dengan perempuan yang musyrik. Dan pastinya Rasulullah SAW tidak akan bersabda untuk menggalakkan mencari pasangan yang baik agamanya.
Nyata, itu adalah isyarat daripada Allah dan Rasul, agar manusia ‘mencari’ pasangannya. Bukan menunggu semata-mata.
Maka engkau berusaha. Sebelum menamatkan pengajian, engkau bergerak untuk mengenalinya. Engkau pergi menemui guru-gurumu yang mengetahui dirinya, maka engkau bertanya akan peribadinya. Engkau pergi kepada warden asrama perempuan, engkau tanya akan kehidupannya. Adik perempuanmu, Maisarah, hingga menjadi mata-mata.
“Oh, nama dia Atikah.” Bila engkau diberitahu adindamu itu.
“Kak Atikah sangat baik tau Abang. Cuma dia bukan ketua usrah la. Hafalan pun tak banyak.” Engkau mendengar adindamu memberitahu. “Dia suka baca komik, tengok drama jepun, dan dengar lagu inggeris.”
Engkau tersenyum. Perkara yang sama ada diberitahu oleh guru-gurumu dan ustazahmu yang merupakan warden itu.
“Abang ni, tiba-tiba suruh tanya fasal Kak Atikah, ada apa-apa ke? Tak pernah pun suruh orang jadi spy macam ini.” Maisrah memandang dengan wajah curiganya yang comel itu.
Senyum engkau melebar. “Mahu ambil dia jadi kakak ipar Maisarah.” Engkau angkat kening dua kali.
“Ha? Really?” Kedua-dua bahumu dipegang oleh Maisarah. Sofa ruang tamu seperti bergegar dengan reaksi adindamu itu. Engkau mengangguk.
“Habis, lepas tahu kekurangan-kekurangan dia tadi, Abang still nak ambil dia?”
“Abang nak buat satu perkara dahulu sebelum pergi ke luar negara, dan sebelum benar-benar buat keputusan ambil dia jadi isteri.”
“Apa dia?”
“Nak ziarah rumah dia.”
Mata adindamu terbeliak. Engkau tertawa.
“Okay, tetapi rasanya Abang akan jumpa satu lagi kekurangan dia.”
“Hem?” Engkau angkat kening sebelah. Hairan dengan kenyataan itu.
“Keluarga dia sederhana sahaja. Tak macam keluarga kita.” Kau lihat adindamu menebarkan pandangan ke sekeliling. Engkau akhirnya turut melepaskan pandangan kepada ruang tamu.
Luas. Indah. Televisyen skrin flat plasma 43 inci, dengan set home theater, pokok-pokok hiasan yang menyenangkan, sofa yang cantik lagi empuk, dan sempat engkau memanjangkan lehermu melepasi langsir indah, memandang ke luar. Terdapat air pancur, dan taman hijau di sekelilingnya, serta tiga buah kereta mewah yang diparkir tidak jauh dari hadapan pintu rumah, walau di matamu kini hanya mampu menjengah sebuah sahaja daripadanya.
“Takut Abang tawar hati.” Maisarah bersuara.
“Ai, cakap macam berharap Atikah itu jadi kakak ipar sahaja.” Engkau menoleh kembali kepada adindamu.
“Dia cool kut. Maisarah suka yang cool.” Adindamu mengangkat isyarat ‘peace’. Dan engkau tertawa senang hati.
“Kita tengok dulu macam mana.” Engkau sekadar mengangkat keningmu dua kali. Gaya nakalmu yang telah bersebati dengan diri.

*******

“Jahatla Abang ni!” Pinggangmu dicuit Maisarah. Engkau hanya mampu tersenyum di dalam kereta.
Sekarang baru sahaja mengambil pulang adindamu, dari rumah Atikah yang engkau cinta. Senyum hingga ke bibir, kerana taktikmu berjaya.
“Ada patut adik sendiri dijadikan decoy!”
“Oklah tu. At least you tak jadi toy.” Engkau tertawa lagi.
“Jahat!” Bahumu ditepuk lagi.
Adindamu punya program di Johor Bahru. Dengan suka rela, engkau sudi menjadi yang mengambilnya. Sengaja engkau tidak membenarkan Ayah atau Ibu mengambil adindamu dari program seperti biasa. Kerana kali ini engkau mengetahui yang adindamu akan menanti di rumah Atikah. Seperti biasa. Tinggal sebelum ini, engkau tidak mengenali siapa Atikah.
“Senyum apa panjang-panjang. Angau!” Bahu engkau ditepuk untuk sekian kali.
Engkau sekadar mampu menggeleng, sambil senyum kekal pada bibir diri. Mata kekal pada pemanduan, dengan dua tangan kejap pada stereng.
“Abang rasa, Abang nak ambil Atikah jadi isteri abang.” Tiba-tiba engkau bersuara.
Engkau tidak melihat wajah adindamu, tetapi dia senyap seketika. “Ha, sebab dah tengok dia cantik!” Kemudian baru dia bersuara.
Engkau menggeleng lagi. Kalau kerana cantik, lebih baik dari kali pertama pandang, terus engkau masuk melamar. Bukan kerana cantik.
“Kerana dia dan keluarga dia, sederhana.” Senyuman engkau menghinggap telinga.
Engkau telah terbiasa dengan kemewahan dan kebesaran. Kerana itu, engkau melalui alam remajamu dengan penuh rasa tinggi dan angkuh. Engkau sering memandang rendah orang lain, dan tidak menganggap mereka berharga. Hinggalah ayahandamu menghantar ke sekolah berasrama yang baru sahaja engkau tinggalkan, yang mendidikmu akan Islam yang sebenar, sekaligus membasuh jiwamu dengan akhlak langit. Namun sisa jahiliyyah masih ada, ditambah keluargamu masih kaya dan orang kebesaran. Engkau kenal dirimu, yang masih terbiasa dengan kehebatan. Menjadi ketua dalam pelbagai arena, sentiasa berjaya dalam pelbagai perkara, ditemani puja dan puji, dan sering disimbahi populariti.
Itu semua membentuk sebuah hati. Engkau kenal dirimu, jauh di dalam hati engkau sebenarnya sunyi. Tidak kurang yang menggelarmu berlagak, hanya kerana gaya engkau berbicara, cara engkau berjalan, dan pakaian yang engkau kenakan. Kerana itu, sahabatmu hanya seorang, itulah dia Hazwan yang tua setahun daripadamu. Ketiadaannya di sisi, menyedarkan engkau hanyalah seorang yang sunyi. Kalaulah bukan kerana wujudnya Ilahi, pasti engkau telah membunuh diri kerana kesunyian ini.
Tetapi hari ini, seakan kepingan yang tidak lengkap di dalam hatimu terisi. Saat engkau menjengah ke rumah Atikah yang sederhana. Tidak besar, tetapi seperti syurga. Bersinar dengan akhlak ibu bapanya yang mesra.
Ditambah dengan betapa pemalunya Atikah, hingga dia kekal di balik tabir yang memisahkan dapur, tidak keluar hatta menatang dulang seperti dalam drama-drama. Engkau bukan tidak pernah singgah ke rumah kenalanmu sebelum ini. Tetapi adik-adik atau kakak-kakak perempuan mereka sering teruja untuk menunjukkan diri kepadamu. Nyata, siapa yang tidak kecoh jika anak orang besar sepertimu bertandang.
Tetapi itu tidak berlaku kepada Atikah. Tidak juga kepada Ibu Bapanya. Hal ehwal jawatan Ayah dan Ibumu tidak disentuh langsung. Ibu bapanya, tatkala berbicara, nyata terpapar kefahaman mereka yang ampuh akan Islam, dan cita-cita mereka yang tinggi terhadapnya. Bicara mereka seperti mutiara, penuh dengan nuansa Islam dan tidak pula membicarakan yang sia-sia.
Rumah mereka kecil, tetapi mereka bahagia!
Engkau jatuh cinta.
“Jadi, apa Abang mahu buat?” Maisarah bertanya.
“Kertas kerja.”
“Ha?”

Petala ketiga: Membina Kehidupan.
Engkau kini berada di timur tengah. Jordan bumi idaman. Engkau mendengar betapa terbukanya guru-guru di tanah ini, dan betapa indahnya komuniti melayu yang ada. Dan guru-gurumu, hatta mudir turut menggalakkan engkau ke mari. Membuatkan jiwamu berapi-api untuk menadah segala mutiara di sini.
Engkau fokus dengan pengajian, di samping berusaha membina peribadi.
Roh, akal dan jasad, engkau tempa agar menjadi apa yang diarahkan Ilahi. Memang engkau tahu tidak akan mencapai sempurna, tetapi engkau tahu jika engkau berusaha, akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
Bukan itu sahaja fokusmu. Membina kekuatan agar mampu menyara kehidupan juga engkau usahakan. Engkau memahami betapa hendak membina keluarga, bukan hanya dengan perasaan. Tetapi dengan kemampuan.
“Interesting.”
                “Isn’t it, Ayah?” Engkau sekadar meleret senyum. Engkau lihat Maisarah di sisi Ibumu terkebil-kebil. Apa yang interestingnya? Mungkin itu yang sedang dia fikir.
                Engkau lihat kertas kerjamu diberikan pula kepada Ibu. Ayah memandang tepat kepadamu.
                “Perancangan ini, langsung tidak libatkan duit Ayah dan Ibu?” Ayah menajamkan pandangan. Dia dengan gayanya, tegas. Gaya seorang yang berjaya. Yang tidak pernah memanja-manjakan anaknya. Sekiranya dia melihat harta membuatkan anaknya terpesong, dia tidak akan teragak-agak menariknya.
                “Er, still perlu duit Ayah dan Ibu untuk taja pengajian Afeef. Masih perlu duit saku.” Engkau garu kepala. Engkau sangka ayahandamu tersilap baca. Engkau sudah nyatakan sedemikian di dalam kertas kerja.
                “Ya. Itu Ayah tahu. Maksud ayah, untuk perkahwinan. Semuanya, majlis pertunangan, majlis perkahwinan, bahkan untuk sara hidup keluarga selepas itu, Ayah nampak Afeef letak itu semua di bawah tanggungan Afeef. Afeef dalam kertas kerja kata, Afeef akan plan untuk cycle wang saku yang Ayah Ibu bagi, untuk generate your own income.” Mata Ayah masih tidak melepaskan wajahmu. Dan engkau mengangguk tanda benar akan bicaranya itu.
                “Afeef mungkin tak berjaya. Tetapi Afeef nak buktikan yang Afeef ini seorang yang berusaha. Bukan kemaruk nak kahwin sahaja.”
                “Nice. Interesting. Ayah suka. Go on. Macam inilah anak Ayah.”
                Engkau tersenyum lebar. Apatah lagi, Ayah sedang tersenyum sama. Engkau rasa bahagia dapat membanggakan dia.
                “Afeef, Ibu pernah jumpa dan pernah singgah rumah Atikah itu sebelum ini. Biasa ambil Maisarah kalau ada program di Johor Bahru.” Ibu pula bersuara.
                “Ya Ibu, Afeef tahu itu.”
                “Budaknya baik, lembut. Wajahnya amatlah menyenangkan hati Ibu, akhlaknya sangatlah cantik. Dia ibarat perempuan dari zaman lalu. Kalau Afeef benar mahukan dia, Ibu setuju. Tetapi buktikanlah dahulu dirimu itu.”
                “Baik Ibu!”

Maka engkau tidak sekadar bersenang lenang meniti masa lapang sebagai pelajar universiti luar negara. Apatah lagi pelajar deeniyah, punya banyak masa terluang. Sehari, hanya tiga jam sahaja waktu kelas. Maka masa yang lebih, engkau susun sebaik mungkin.
Menadah ilmu tambahan di kelas-kelas masjid. Menjalani usrah yang dianjurkan oleh persatuan. Seterusnya mengikuti program-program kemasyarakatan yang disediakan. Membina hubungan dengan kenalan baru. Seterusnya fokus menggerakkan projekmu.
“Penasyid, tanpa alat musik. How it sound to you?”
                “Hem. Interesting. Cool.” Maisarah angkat ibu jari.
Saban waktu terluang, engkau dengan kelebihan suaramu yang sering menyihir pelajar asramamu sebelum ini, akan mendendangkan lagu yang engkau sendiri cipta. Dirakamkan, dan dimuat naik ke YouTube. Engkau bina Blog untuk bercerita pandanganmu akan dunia hiburan di Malaysia, juga negara luar. Engkau promosikan pada rakan-rakanmu di Jordan.
Saban peluang muncul, jika ada acara besar yang dianjurkan oleh persatuan, engkau akan berusaha mendapatkan tempat untuk melakukan persembahan.
Perlahan-lahan, apa yang engkau buat mula tersebar.
Penasyid tanpa alat musik, nyata memberikan impak yang besar memandangkan perkara itu belum lagi popular di Malaysia. Ditambah pula apa yang engkau alunkan itu adalah kalam-kalam yang mengingatkan manusia kembali kepadaNya, memberikan manusia kesedaran agar hidup di dalam peraturan Islam, mengejutkan manusia yang lena, memberikan harapan kepada yang kecewa, dan memotivasikan jiwa. Nyata satu kombo yang menggegarkan mereka yang mendengarnya.
Selepas beberapa bulan, video-videomu mencapai ratusan ribu penonton. Blogmu kini dilawati ribuan orang saban waktu. Pandangan-pandanganmu berkenaan hiburan mula menjadi perhatian dan diambil berat. Engkau mula menjadi sebutan ramai.
“Afeef. Tahniah.”
“Em?” Engkau memandang mas’ul usrahmu, Zakariyya. Usrah telah usai, engkau sahaja yang masih tinggal selepas yang lain pulang. Sengaja. Engkau memang suka mendengar tambahan perkongsian daripada sembang-sembang yang santai daripada para senior.
“Engkau popular sekarang aku tengok. Ramai kenalan aku di Malaysia pun sibuk dengar nyanyian engkau di YouTube.”
“Alhamdulillah. Semua karunia adalah milik Allah, senior.” Engkau tertunduk segan. Engkau sebenarnya kurang senang orang berbicara akan karier nyanyianmu. Apatah lagi bila yang dibicarakan adalah popularitimu.
Engkau menjaga jiwamu.
Kalau boleh, biarlah masyarakat sekeliling memandangmu sebagai orang biasa. Bukan orang lain.
“Banyak lagi kena belajar dengan orang macam senior.” Engkau menambah.
Senior Zakariyya tertawa. “Aku tak pandai menyanyi.”
“Tetapi Senior pandai menawan hati yang jauh dari Ilahi.”
“Kita ini sama sahaja Afeef. Sama sahaja. Teruskan usaha engkau. Aku sentiasa menyokongmu.” Tangannya mencapai bahumu.
Engkau pulang ke rumah sewamu malam itu dengan hati yang senang. Rasa syukur kepada Allah yang membukakan hati orang lain untuk mendengar nyanyianmu, sekaligus menyebar luas lagi penyampaianmu.
Engkau sampai ke rumah, terus membuka komputer ribamu. Memerhatikan perkembangan di blogmu. Tiba-tiba, satu perkara menarik perhatianmu.
“Assalamu’alaikum Tuan Afeef. Kami dari Syarikat MuminzMusic Record, di bawah seliaan Datuk Amir Ar-Rasyid. Kami berhajat ingin menjadikan tuan penyanyi kami. Kami berhajat ingin menerbitkan album tuan. Jika tuan sudi, sila hubungi kami di email…”
Dan selepas itu tidak dapat engkau baca, kerana kini pandanganmu dihalangi genangan air pada mata. Perlahan-lahan air matamu tumpah.
Allahuakbar!

Petala Keempat: Melamar Bidadari.
Keadaan benar-benartelah berubah. Kini, engkau terkenal sebagai penasyid tanpa alat musik di Malaysia. Sedang engkau tidak pernah muncul di sana hingga kini. Engkau sekarang adalah pelajar tahun 3, di University of Yarmouk, Irbid, Jordan.
Engkau memang tidak berniat untuk pulang ke Malaysia, melainkan pada tahun ini.
Engkau sudah punya perancangan yang tersendiri.
Hari ini adalah harinya engkau menaiki penerbangan pulang ke Malaysia. Menjejak tanah airmu, tempat wujud keluarga yang tercinta. Walau kadangkala engkau melepas rindu dengan ber’Skype’ dengan mereka, namun nyata tidak sesekali sama dengan bertemu bersua muka.
“Jaga diri baik-baik mate.” Fawwaz, rakan serumah, pelajar perubatan mengucapkan selamat tinggal.
“Balik ini, sah-sah full jadual engkau.” Dadamu disentuh penumbuk Toriq, juga rakan serumah, pelajar Usul Fiqh yang seangkatan denganmu.
“Doakan aku ok. Semoga Allah jaga aku.” Mereka berdua engkau paut dalam pelukan, sebelum keluar dari rumah, menuruni anak tangga dan menanti teksi ke lapangan kapal terbang. Engkau tidak membawa apa-apa melainkan sebuah bagasi.
Engkau berdiri di tepi jalan. Menanti teksi yang telah engkau hubungi.
“Assalamu’alaikum.” Satu suara lembut menerpa gegendang.
Engkau memandang. Dan ketika itu juga engkau seperti terpana.
Seorang akhawat, berpurdah, bersama dua orang temannya, sedang berdiri di hadapanmu.
Engkau angkat kedua-dua kening. “Waalaikumussalam. Ya?” Hairan mengapa akhawat yang tidak engkau kenali ini boleh berada di hadapanmu kini.
“Em, akhi nak balik Malaysia kan?”
“Iya. Tengah tunggu teksi.”
“Saya sebenarnya ada benda penting.” Akhawat berpurdah itu menundukkan wajahnya.
“Oh, ok. Apa dia?” Engkau berlagak biasa. Walaupun melihat riya’ wajah dua rakan akhawat itu, seakan perkara pentingnya itu tersangat-sangat penting buat dirinya.
“Saya ini, berhajat untuk menjadi sayap kanan akhi.”
Dan engkau diam seribu bahasa.
“Akhi, akhi sila consider Raudhatul Husna. Dia seorang yang aktif dalam dakwah, dan menghafal 30 juzu’ Al-Quran. Seorang yang pantas untuk menjadi pendamping akhi di atas medan yang penuh liku ini.” Salah seorang dari rakannya bersuara. Akhawat berpurdah sekadar menundukkan wajahnya.
Engkau mengerutkan dahi. Dada berdegup kencang.
Raudhatul Husna. Engkau sering mendengar nama ini. Disebut selalu oleh rakan-rakanmu. Perempuan yang terkenal dengan solehahnya, dan dari rakan-rakan engkau yang punya rakan-rakan perempuan, ramai yang menyatakan wajah di balik purdah itu tersangat indah. Pencapaian akademiknya juga sangat mantap, saban tahun mendapat anugerah dekan. Pelajar Usuluddin, tahun 4, University of Yarmouk. Senior kepadamu dari segi batch, namun umurnya sebaya denganmu.
Bukan perempuan sebarangan!
Engkau menghela nafas. Garu kepala yang tidak gatal.
“Em. Husna.”
“Ya, akhi.”
“Saya dalam perjalanan untuk melamar bidadari saya.” Engkau menepuk bagasimu.
“Ya, saya ada dengar juga.” Raudhatul Husna mengangkat wajah. “Sebab itu saya mencuba.”
Allahuakbar.
“Saya tidak harapkan jawapan sekarang. Saya harap akhi pertimbangkan. Mohon diri dulu akhi. Nampaknya, teksi akhi pun dah sampai. Assalamu’alaikum.”
Teksi kini tersedia di hadapan mata. Pemandunya mengucapkan selamat kepadamu. Engkau membalas sapaannya, dan kemudian menghantar Raudhatul Husna dan dua rakan perempuannya pergi dengan pandangan.
“Waalaikumussalam.” Jawapan mulia itu meniti pada bibir.
Engkau menggeleng.

********

Seperti yang dijangka, jadualmu di Malaysia penuh. Saban hari, ada jemputan persembahan ke sana ke mari. 3 tahun para peminatmu menanti. Saban waktu sebelum ini sekadar melihat persembahanmu hanya di alam maya, kini engkau muncul dalam realiti.
“Assalamu’alaikum Malaysia!” Engkau menjerit kuat.
“Waalaikumussalam!” Dan Dewan Sultan Iskandar bergegar dengan jawapan itu.
Engkau dapat melihat ayahanda dan bondamu, bersama adindamu Maisarah di tempat duduk VVIP. Mereka sedang tersenyum gembira, dan itu membuatkan engkau bahagia. Wang royalti album, populariti, bukanlah apa-apa jika hendak dibandingkan senyuman daripada mereka.
Antara tarikan apabila mengikuti persembahanmu adalah, ia seakan-akan ubat kepada jiwa. Tanpa alunan musik, yang ada hanya suara, diselang seli pula dengan motivasi kehidupan yang engkau sampaikan, ia memberikan impak dan kelainan dari apa yang dibawa oleh industri hiburan selama ini.
Engkau hingga ditemu bual oleh beberapa stesen televisyen dan radio, dan dijemput memberikan ceramah motivasi untuk sekolah-sekolah dan universiti-universiti di seluruh Malaysia. Bakat, ditambah dengan persembahan luar biasa yang engkau bawakan, disempurnakan lagi dengan umur yang baru sahaja 20-an, membuatkan engkau menjadi satu fenomena di Malaysia.
Engkau kini boleh dikatakan sebagai yang telah berjaya.
“Nampaknya Afeef, Afeef telah berjaya membuktikannya.” Ayah bersuara, saat sarapan pagi di halaman. Bunyi air pancur menghiasi suasana.
“By the way, actually, kalau Afeef tak berjaya pun capai macam apa yang Afeef capai hari ini, Ibu dengan Ayah memang dah fikir nak support sahaja Afeef kahwin awal. Afeef berusaha sahaja, sudah cukup buat kami gembira. Tetapi nampaknya, Allah beri lebih lagi. Afeef betul-betul berjaya!” Ibu nyata gembira.
“So, Ibu, Ayah, can we discuss about ‘that’ thing?” Engkau angkat kening dua kali dengan senyuman nakal.
“Abang ni, duduk Jordan tiga tahun, tak berubah-ubah gayanya!” Pinggang engkau dicuit Maisarah.
Seluruh keluarga tertawa.
“Okay, hujung minggu ini Ayah dan Ibu free. Maisarah, please notify to her family, yang Ayah dan Ibu nak datang ziarah.”
“Ai ai sir!” Maisarah buat gaya tabik, dengan jemput-jemput masih di tangan.
Engkau tersenyum bahagia.
Sepanjang waktu sebelum ini, engkau berdoa bersungguh-sungguh agar engkau berjaya. Bukan sahaja berjaya dalam karier menyanyi, tetapi berjaya sebagai seorang da’ie. Berjaya membina diri, menimba ilmu, dan mempunyai kefahaman yang luas lagi sederhana dalam agamamu. Saban tahun, jika ada peluang, engkau meluangkan masa cuti semestermu menziarahi Rumah Allah di Makkah, berdoa, mempertingkatkan diri, dengan penuh pengharapan.
Engkau kira, waktu bahagiamu sudah semakin dekat.
Allah akan memakbulkan segala harapan.
“Alhamdulillah.”


Petala Kelima: Menempuh Ujian.
Engkau sugul.
Wajah yang sentiasa ceria, menjadi sedikit kelam. Engkau tetap meneruskan jemputan-jemputan yang masih berbaki. Engkau tersenyum di khalayak ramai, tetapi engkau bersedih di dalam hati.
“Macam Ayah, Ibu?”
                Engkau bertanya ceria apabila Ibu dan Ayah pulang. Namun engkau perasan wajah mereka tidak seceria biasa. Maisarah juga masuk ke rumah dalam keadaan menundukkan kepala.
                “Eh, kenapa ni?”
                Mereka bertiga duduk di atas sofa ruang tamu.
                “Em, abang, Kak Atikah tolak la.”
                “Ha? Seriously?” Engkau memandang Ibu dan Ayah.
                Kedua-dua orang tuamu mengangguk. Hatimu meretak. Jiwamu seakan sedang diayun untuk dihempas pecah.
                “Why?” Engkau tidak dapat menerima.
                “Atikah kata, dia segan hendak bersuamikan Afeef. Bukan sahaja soleh, pelajar agama di universiti terbilang,aktif dalam arena dakwan dan tarbiyah, ditambah pula punya populariti yang menjulang. Dia rasa tidak layak dan tidak mampu.” Ibu bersuara sayu.
                “Nampaknya, kejayaan Afeef, adalah halangan Afeef.” Ayah mengangkat wajah. Dalam bicaranya.
                “Afeef sabar ya sayang? Memang dalam dunia ini, bukan semua benda kita mahu, kita dapat.” Ibu memujuk.
Air matamu melimpah deras. Engkau mampu kuat kala punya teman. Tetapi tidak pernah engkau gagal menangis, kala berseorangan. “Allah, kenapa Engkau uji aku begini? Dialah yang aku cinta. Dialah yang aku punya perasaan kepadanya. Mengapa Engkau uji aku begini?” Engkau kecewa.
Usahamu. Penat lelahmu. Kesungguhanmu. Seakan-akan tidak ada apa makna.
“Sahabat.” Hazwan menyentuh pipimu.
Engkau angkat kening sebelah.
“Janganlah sedih sangat.”
“Mana ada ana sedih.” Engkau melarikan wajahmu. Menguis makanan di hadapanmu.
“Wajah sembam aja.” Hazwan tetap konsisten.
“Mana la ana tak sedih, ana sungguh-sungguh berusaha. Sekali, usaha ana adalah penyebab ana ditolak.” Engkau memuncungkan bibir. Dadamu berat.
Sudahlah minggu hadapan mahu balik semula ke Jordan, untuk menempuh tahun akhir sebagai pelajar University of Yarmouk. Engkau rasa tidak bersemangat.
“Sahabat.” Hazwan bersuara. Engkau mengangkat wajah. Hazwan kelihatan telah meletakkan sudu dan garfunya. Selesai menghabiskan makanannya.
“Kita ini, ada masa Allah uji. Ujian kalau tak menguji kita, bukan ujian namanya. Maka, apa kata kita melihat perkara ini dengan skop yang lebih luas. Mungkin Allah SWT mahukan enta meningkat ke tahap yang lebih baik lagi.”
Engkau diam. Hazwan nyata sahabat yang baik. Dia tidak pernah putus memberikan peringatan. Walau terpisah jarak, dia sentiasa menghubungimu. Kekal sebagai sahabat terbaikmu. Kini bila berada di hadapan, nyata terasa dia seperti keluargamu.
“Apa kata kita positif? InsyaAllah, mungkin Allah mahu beri yang lebih baik lagi.” Hazwan menghadiahkan kepadamu senyuman.
Engkau sekadar mampu berdiam. Hatimu seakan hilang. Tetapi jiwamu mengakui kebenaran nasihat Hazwan.
Tiba-tiba, engkau teringat akan Raudhatul Husna.
Apakah mungkin ini adalah susunanNya?

*********

“Bagaimana dengan lamaran saya tempoh hari akhi?” Raudhatul Husna bertanya. Bertemu denganmu dalam perjalanan engkau mahu pulang ke rumah sewa. Perjumpaan tanpa dirancang.
“Akhi belum berpunya kan?” Dia seakan memastikan.
Engkau membisu. Menggeleng.
“Jadi?”
Jiwamu bersuara. Apa kurangnya Husna? Bahkan berkali ganda lebih baik daripada Atikah.
“Berikan saya masa. Nanti saya beritahu.” Engkau mengelak.
“InsyaAllah, saya tunggu. Semoga Allah berikan kepada kita yang terbaik. Pergi dulu Akhi. Assalamu’alaikum.” Raudhatul Husna berpapasan pergi, diiringi rakan-rakannya. Engkau sekadar menghantar dengan pandangan. Mereka mungkin mahu ke universiti.
Engkau menghela nafas.
“Wa’alaikumussalam.”
Mengapa mahu kepada yang tidak mahu wahai Afeef? Engkau bertanya kepada dirimu sendiri. Mengherdik. Marah. Entah mengapa, walau berapa kali engkau cuba untuk tidak lagi berhajat kepada Atikah, dia tetap terpatri di dalam jiwa gagah.
“Ya Allah, Engkau susun agar dia menolakku. Tetapi Engkau tidak hilangkan dia daripada jiwaku. Apakah ini Ya Rabb? Aku tidak lagi mengharap untuk dia menjadi isteriku, tetapi hati kecilku kekal bersamanya. Aku cuba sibukkan diriku sesibuknya, tetapi tetap aku tidak mampu melupakannya.” Engkau mengadu.
Semenjak ditolak, engkau semakin rajin berqiamullail. Di situlah engkau tumpahkan segala pengaduan. Di situlah engkau menambah kekuatan. Kepada siapa lagi mahu diminta bantuan, kalau bukan kepada Allah SWT.
Engkau tidak meminta agar Atikah menerima, tetapi engkau meminta agar engkau yang mampu menerima keputusan ini.  Engkau amat matang untuk meminta permintaan yang betul. Meminta orang lain bersedia menerima, hanya akan membuahkan kekecewaan, kerana itu adalah ruang ikhtiar manusia lain. Sedang untuk diri sendiri menerima realiti, kuat menempuh cabaran, itu adalah ikhtiar diri. Maka sebaiknya berdoa untuk itu. Kerana itu yang sepatutnya.
Kini engkau seakan meningkat setahap lagi. Lagu-lagumu kini lebih dekat dengan jiwa. Lirik-liriknya kini sentiasa tidak pernah gagal memagut rasa. Kefahamanmu terhadap Al-Quran dan Al-Hadith yang meningkat seiring pengajianmu, memapankan lagi lirik-lirik yang ditulis olehmu.
Engkau menjadi lebih sederhana. Lebih bertolak ansur. Berpandangan lebih jauh.
Lebih matang. Engkau melalui ujian ini dengan tabah.
Tiba-tiba, satu waktu itu, mindamu seperti dibuka sesuatu.
“Aku faham kenapa aku tak dapat tinggalkan perasaanku terhadap Atikah!” Engkau tersenyum sendiri.
Kerana dialah satu-satunya perempuan yang menolakmu. Walaupun sedih dengan penolakannya, tetapi itu tambah membuktikan bahawa betapa tepatnya pilihanmu. Bukan mudah hendak berjumpa dengan perempuan yang menolak lelaki sepertimu. Tetapi Atikah, atas kesederhanaannya, menolakmu.
Kerana itu, penolakannya tanpa sedar telah menambah cintamu!
“Apakah ini maknanya?” Engkau bertanya kepada jiwa.
Engkau ada Raudhatul Husna yang menanti, dan Atikah Hazwani yang bertahta di hati.
“Tidak salah mencuba.” Engkau tersenyum sendiri.
Pantas engkau mencapai telefon pintar milikmu, dan menghubungi keluarga yang dekat di kalbu.
“Ibu, Ayah, cakapkan kepada Ibu Bapa Atikah, yang Afeef suka untuk jadikan Atikah sebagai isteri. Bila dia tolak, itu buat Afeef lagi suka kepada dia. Dialah yang Afeef cari untuk melengkapkan Afeef. Afeef perlukan orang seperti dia. Cakapkan begitu kepada mereka. Afeef beri masa sebulan. Selepas itu, jika tolak juga, Afeef pasrah pilih orang lain.”
Begitu bicaramu.
Dan selebihnya, engkau serahkan kepada Tuhanmu.

Petala Keenam: Hubungan Yang Terjaga.
“Assalamu’alaikum Cinta.” Engkau menekan butang ‘send’.
Beberapa waktu, telefon pintarmu berbunyi. Tanda mesej masuk.
Pantas engkau membuka kantung mesej.
“Waalaikumussalam. Sebelum kahwin, jangan sweet-sweet sangat dengan saya. Saya tak berapa senang.”
Engkau garu kepala. SMS pertama engkau dibalas begitu. Engkau tertawa sendiri. Engkau bukan apa, sangka dengan SMS sedemikian, buat tunangmu itu menjadi lebih tenang. Tanda engkau tidak mahu memberikan masalah kepadanya. Tanda engkau benar-benar mencintainya.
Itu kenangan kala baru bertunang.
Ditetapkan, pertunanganmu akan berjalan selama setahun. Beberapa bulan selepas engkau tamat pengajian, baru perkahwinan akan berlangsung.
Tunangmu nyata seakan perempuan dari zaman lalu. Sangat terjaga. Sangat pemalu. Sangat menjaga. Baru beberapa hari bertunang, dia menulis satu email.
“Awak tak boleh publicly bagitahu siapa tunang awak. Bagitahu awak dah bertunang tak mengapa. Kemudian, awak tak boleh cerita apa-apa pun yang boleh menzahirkan saya di public. Ini awak kena janji dengan saya.”
Engkau tidak membalas panjang. “Ai ai sir!” Itu sahaja. Menuruti.
“Ini Ummi berikan Afeef surat Ummi dan Abah masa bertunang dulu.” Pesan Ummi tunangmu pada nota yang tertampal di bungkusan yang engkau baru terima dari Malaysia.
“Afeef berhubunglah dengan dia sebulan sekali lalu email. Ta’aruf. Belajarlah dari surat-surat Ummi dan Abah ini.”
Engkau tersenyum. Nampaknya tidaklah terlalu ketat sampai semua benda tidak boleh.
“Awak, Ummi suruh kita berhubung lalu email sebulan sekali. Awak ok?”
“Kalau dah itu Ummi suruh, ok je. Tetapi sebulan sekali sahaja, tak ada ayat-ayat bunga, dan strictly untuk ta’aruf sahaja, okay? Saya ni sebenarnya tak pernah berhubung dengan lelaki sebelum ini.”
Nice. Hatimu tertawa. Jari menekan papan kekunci pada telefon pintarmu.
“Baik boss!”
Dan bermulalah perhubunganmu dengannya. Sebulan sekali, engkau akan menulis, dan dia akan membalas. Engkau ceritakan perihal dirimu, dia akan menceritakan perihal dirinya. Engkau cerita apa yang engkau suka, dia cerita apa yang dia suka. Engkau beritahu fasal pelajaran, dia cerita fasal pelajaran. Begitulah, beberapa bulan, hingga engkau graduasi.
Selepas engkau graduasi, ada beberapa bulan sebelum berkahwin. Ibu dan Ayah sibuk dengan persiapan. Memandangkan engkau kini bertaraf selebriti, banyak jemputan yang perlu diuruskan. Engkau sudah nyatakan kepada Ibu dan Ayah:
“Ibu, Ayah, Afeef bajet sekian-sekian sahaja untuk kahwin, okay? Lebih-lebih, Ibu Ayah yangsupport tau.”
“Don’t worry dear.” Ibu mencubit manja pipimu. Teruja sungguh. Yalah, menantu pertama.
Engkau walau sibuk meluangkan masa dengan kerjaya, sekali-sekala engkau akan menyempatkan diri juga untuk menziarahi rumah tunangmu di Malaysia. Tetapi dia tidak pernah muncul ke ruang tamu. Hanya Ummi dan Abah sahaja yang berbicara denganmu saban waktu.
Sungguh pemalu.
Kadangkala engkau belikan hadiah, tetapi seringkali sahaja hadiahmu dibalas dengan SMS:
“Buat apa ini? Awak janganlah membazir.”
Bila engkau cuba mendapatkan maklumat daripada adindamu Maisarah, Maisarah akan menjawab:
“My soon to be Kakak Ipar kata, Abang dah tak boleh korek-korek rahsia. So, my lips is sealed.”Sambil buat gaya zip mulut.
Engkau hanya tersenyum. Tidak pernah engkau kecewa dengan sikapnya, kerana itulah yang engkau cari selama ini.
Atikah Hazwani.
Engkau memang perempuan yang mahal.
Harinya semakin hampir.
Buah kepada pokok sabar akan dituai tidak lama lagi.

Petala Ketujuh: Ini Hanya Permulaan.
“Sah?” Tok Kadi memandang sekeliling.
Semua yang hadir tersenyum. “Sah.”
“Alhamdulillah. Alhamdulillah!” Kedengaran suara Ummi, Abah, Ibu, Ayah dan Maisarah keseronokan. Engkau melirik ke arah Atikah yang indah seperti bidadari berpakaian serba putih. Atikah juga sedang memandang kepadamu.
“Ha, sarunglah cincin.” Kedengaran suara Ibumu. Suasana gamat dengan tawa melihat kerterujaan bondamu. Para jurukamera dari pelbagai stesen televisyen, sedang sibuk menangkap gambar, bahkan ada yang merakamkannya. Kerana perkahwinanmu menjadi siaran langsung di salah satu stesen televisyen negara.
Engkau bergerak merapati Atikah. Duduk antara dua sujud, memandang wajahnya.
Hatimu seperti terangkat ke langit ketujuh.
“Akhi, mengapa tidak memilih saya?”
                “Kerana bidadari telah sudi menerima.”
                “Saya dengar, dia tidaklah sesolehah mana.”
                “Bukan itu yang diukur oleh saya. Saya memilih dia, kerana dia sederhana.”
Dan kesederhanaan ini sedang berada di hadapanmu.
“Assalamu’alaikum cinta.” Tiba-tiba suaranya, yang tidak pernah engkau dengar langsung sebelum ini, terbit menyampaikan salam.
Mata engkau membesar. Tidak percaya. Indah lembut suaranya menggetarkan gegendang telinga, memalu jiwa. Allahuakbar.
Spontan air matamu merembes. Sekarang baru terasa, betapa telah bertahun-tahun berlalu, semenjak pertama kali engkau jatuh hati kepadanya. Hari ini, dia berada di hadapanmu, halal buatmu.
“Wa’alaikumussalam rindu.” Engkau tersenyum lebar, sambil menyarung cincin. Terus perempuan itu bersalaman denganmu, pertama kali bersentuhan dengan ajnabi, ibarat elektrik menjalar terus menyegarkan hati, disempurnakan dengan tunduk kepalanya mengucup belakang tanganmu.
Tanganmu terasa basah.
Nyata dia juga sedang menitiskan air mata.
Alhamdulillah.
Dan engkau tahu bahawa ini baru permulaan kepada satu lagi kembara.


Suatu Kehidupan Baru.....

Aku telah bermula satu kehidupan baru.....perubahan baru....kawan yang baru dan juga tempat yang baru...walaupun sudah beberapa kali datang ke sini sebelum ini.....aku kini berada di sebuah kolej islam yang bernaung di bawah kerajaan negeri iaitu Kolej Islam Darul Ridzuan ataupun lebih dikenali sebagai Kisdar.....tidak lama nanti akan dinaiktarafkan kepada Kolej Universiti Islam Sultan Azlan Shah...ataupun singkatannya Kuisas.....sememangnya aku ama bertuah apabila dapat masuk ke sini....kerana terdapat kawan-kawan lama samada dari Madrasah Idrisiah mahupun dari Sekolah Rendah Al-Furqan.....inilah kawan-kawan yang aku kenali begitu lama.....dan aku juga mempunyai kawan-kawan yang baru....begitu ramai sekali....ada yang dari Sabah....Kedah....Perlis dan lain-lain lagi....ada juga rakan-rakan dari luar negara....seperti Kemboja...Thailand dan juga Singapura.....tp nasib baik aku boleh bercakap dua loghat....iaitu loghat utara dan juga loghat perak kuale....aku boleh menggunakan kelebihan yang aku ada ini....aku tidak sia-siakan....di Kisdar ini aku mengambil kos Usuluddin....di mana kos Usuluddin ini membincangkan mengenai ilmu tauhid atau lebih di kenali sebagai ilmu Aqidah.....jikalau memikirkan kembali mengenai kos Usuluddin ini....sebenarnya agak berat untuk membawanya....tetapi aku yakinkan diri aku supaya aku boleh membawa kos ini dengan sebaik mungkin....tetapi aku berasa amat gembira kerana mempunyai rakan-rakan yang happy good lucky....yang boleh membuatkan orang ramai ketawa riang dan juga senyum selalu.....rasa sedih yang terpendam atau terbuku di dalam hati ini hilang dan reda dengan perlahan-perlahan.....ini bagusnya mempunyai kawan-kawan yang ramai....bak kata orang..."berkawan biar beribu, berkasih biar satu".....oleh itu renung-renungkanlah.....

Ahad, 17 Jun 2012

Mira Edora

Mira Edora
Nama tercipta
Kata bicara terukir mesra
Inginku sunting bunga di taman
Untukku hiasi mahligai cinta

Inginku hampiri
Hatimu yang sunyi
Kasihku...sayangku...

Oh Mira Edora
Oh..Oh

Mira Edora
Kaulah segalanya
Padamu diriku ada kekosongan
Inginku temui dirimu sayang

Agar terubatlah rindu hatiku
Inginku selami
Malammu yang sepi
Kasihku...Sayangku..

Oh Mira Edora

Sabtu, 16 Jun 2012

Beginilah Caranya

Aku tak bisa menyatakan perkataan
Kelu lidah bila berdepan kamu

Aku percaya pada naluri hatiku
Yang nyata sudah ada depan mata

Tapi aku masih belum mengenalmu
Untuk menikmati rasa sebenar-benar cinta

Aku tahu dimana nak cari cintamu
Di sini tak mungkin mengalah
Dengan apa yang mendatang

Yang ku tahu
Kucuba yang terbaik untukmu
Yang indah jadikan kenangan
Yang duka perbetulkan

Begini caranya bagi diriku
Caranya bagi diriku